jahiliyah

Logika Penentang Dakwah

Posted on Updated on

Teringat akanlogica sebuah kisah yang ditulis oleh ustad Salim A. Fillah Full dalam tulisannya berjudul “Di Bukit Shafa”. pada suatu ketika di atas bukit Shafa ada seorang lelaki yang memanggil kaumnya, maka berkumpullah orang-orang itu dengan hati penasaran siapa dan apa yang ingin disampaikan oleh lelaki yang memangil mereka dari atas bukit itu. “ternyata itu Al Amin, Sang Penuh Amanah dengan wajah yang berseri, rapi dan wangi.”

“Apa pendapat kalian apabila kukabarkan kepada kalian bahwa di balik bukit ini ada sepasukan berkuda dg bersenjata lengkap mengepung, siap menyerbu Makkah?”

Beerebutlah jawaban para penduduk Makkah “Sesungguhnya kami akan mempercayaimu, karena Engkau adalah Al Amin!”
Kemudian Al Amin pun tersenyum dan melanjutkan pernyataannya. “ Sesungguhnya aku adalah utusan dan pembawa peringatan dari Allah sebelum datang Adzab yang besar..”

Belum selesai kalimat itu diucapkan, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang maju ke depan sembari mengacungkan jari telunjuknya kewajah Sang Rasul dan berteriak “Bina engaku Muhammad!! Apakah hanya untuk urusan seremeh ini kami semua dikumpulkan?!!!”, laki-laki itu adalah paman Sang Rasul sendiri yaitu Abu Lahab.

Abu Lahab merupakan salah satu simbol penentangan da’wah. Selalu ada motivasi lain dalam penentangan yang dilakukan Abu Lahab di luar ketidaktahuan dan sikap tidak mau taunya. Baginya apa yg dibawa keponakannya itu bisa membawa pengaruh buruk atau bahkan membahayakan bagi kemapanan kaumnnya dari hasil bisnis pagan yang selama ini dia dan penduduk Makkah lakukan.

Dari kisah diatas bisa kita lihat bahwa Logika Abu Lahab, Logika Untung-Rugi ini terwaris hingga hari ini pada mereka yang menentang da’wah.

by: Taruna

Sumber :
A.Fillah, Salim. 2012. Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media

Advertisements